Minggu, 21 Februari 2016

Pageant; Material Futuristik dalam Busana Kasual


Setelah lama berkerja dengan label-label dunia sekelas Christopher Kane, Christopher Shannon, dan label P.A.M (Perks and Mini), desainer asal Australia Amanda Cumming dan Kate Reynolds membuat label mereka sendiri. Tahun 2010 merupakan kemunculan perdana label fashion mereka dengan nama Pageant, melalui label fashion ini Amanda dan Kate ingin memberikan alternatif baru dalam dunia fashion. Pada awal kemunculanya Pageant merupakan label busana menswear, baru setelah tahun 2013 mereka mengeluarkan koleksi busana wanita.

Jakarta Fashion Week 2016 yang tahun ini berkerja sama dengan Melbourne Fashion Festival menampilkan label asal Australia ini sebagai inspirasi. Finalis The BT Emerging Design Award 2015, dan pemenang Tiffany & Co. National Designer Award 2015 ini menampilkan koleksi S/S 2016 mereka. Koleksi ini diberi judul Fervour, koleksi busana ini terdiri dari busana kasual dan sports wear, Pageant menggabungkan material - material futuristik dan feminin dengan bentuk busana yang sporty, hasilnya sebuah koleksi busana kontemporer dengan unsur feminin dan edgy sekaligus.

























Pageant menampilkan koleksi yang sangat kasual, busana - busana dengan bentuk dan motif seperti ini dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat luas. Konsep material futuristik dengan bentuk sporty yang mereka usung sangatlah menarik, namun eksekusinya dirasa terlalu sederhana untuk pasar Indonesia. Bahkan dalam beberapa bentuk busana dalam koleksi ini terasa janggal dan dipaksakan, mungkin jenis busana ini sangat mungkin untuk selera pasar masyarakat Australia, namun sepertinya koleksi ini belum dapat meninggalkan kesan kuat bagi masyarakat indonesia.

Bayu Raditya Pratama
  

Sabtu, 20 Februari 2016

Anthony Bachtiar; Material Alami dalam Busana Ready To Wear


 Kecintaan Anthony Bachtiar dalam dunia fashion dimulai dari menjadi photographer komersial, sebut saja Giordano dan Lee Cooper pernah ia tangani. Javadiva ialah label fashion yang Anthony dirikan pada tahun 2003, melalui label ini Anthony memperkenalkan koleksi busananya sekaligus memperkenalkan kain - kain nusantara kepada generasi muda.

Selain menggunakan kain tradisional khas Indonesia, Anthony Bachtiar juga membawa isu green kedalam koleksi busana ready to wear nya. Keseluruhan koleksinya yang ia tampilkan pada Jakarta Fashion Week 2016 ini merupakan hasil tenunan yang menggunakan bahan alami, adapun warna - warna tersebut berasal dari pepohonan seperti daun mangga, daun mahony, dan bunga indigo. Psychedelic merupakan tema yang ia pilih untuk koleksinya kali ini, tema ini ia padu dengan menggunakan motif dan unsur indonesia yang kental.















Kepiawaiannya dalam mengolah bahan pewarna alami tanpa merusak alam sangatlah baik untuk diapresiasi, penggunaan motif serta kain tenun demi melestarikan budaya bangsa pun sangat terasa dalam koleksi ini. Namun sepertinya hal tersebut tidak cukup dalam membuat sebuah busana, terlihat dari koleksinya kali ini, Anthony belum mampu untuk menggunakan kepiawaiannya tersebut untuk membuat busana yang mengedepankan unsur kekinian.

Koleksi Psychedelic ini terlihat kuno dan masif, meskipun dengan tehnik pembuatan material yang rumit, namun tidak ditunjang dengan permainan detail yang pas. Kombinasi detail yang sederhana dengan bentuk busana yang cinderung old school, membuat koleksi ini seperti dirancang oleh desainer dari tahun 80-an. 

Bayu Raditya Pratama.

Rahul Mishra; Embroidery Dalam Busana Modern


Rahul Mishra merupakan desainer pertama asal India yang mendapatkan beasiswa di Instituto Marangoni Milan, Italy. Lulusan dari National Institute of Design Ahmedabad ini memulai karir nya pada tahun 2006 dalam Lakme Fashion Week, ia meluncurkan koleksi pertamanya menggunakan bahan tenun dari Kerala, India. Penggunaan material khas India inilah yang membawa Rahul memiliki kesempatan untuk memamerkan koleksinya di beberapa acara fashion week dunia, sebut saja London, Dubai, dan Australia.

Pada tahun 2013 Rahul berhasil memenangkan kompetisi desain International Woolmark Prize di India, sekaligus menjadi perwakilan dari Asia pada ajang serupa untuk kelas dunia. Dalam ajang tersebut Rahul berhasil menjadi finalis bersama dengan Christopher Esber dari Australia, Sibling dari Eropa dan Joseph Altuzarra dari Amerika. Rahul Mishra menampilkan koleksi yang terinspirasi dari bunga lotus dan gambar monokromatik karya seniman Maurits Cornelis Escher, hasilnya ialah sebuah capsule collection yang ia beri judul The Lotus Effect. Pada tahun 2014, koleksi ini berhasil membuat Rahul Mishra menjadi pemenang pada ajang yang juga pernah mencetak desainer - desainer dunia, seperti Karl Lagerfeld dan Giorgio Armani.

Pihak Jakarta Fashion Week 2016 berkerja sama dengan Melbourne Fashion Festival, dan The Woolmark Company menampilkan koleksi Rahul Mishra sebagai tokoh inspiratif, dalam kesempatan ini juga Rahul tidak hanya menampilkan capsule collection nya saja, melainkan juga koleksi ready to wear F/W 2015 nya.






























Dari koleksi ini terlihat sekali kekuatan desain Rahul Mishra terletak dalam permainan embroidery baik 2 dimensi maupun 3 dimensi, Rahul berhasil menggabungkan ke-2 embroidery tersebut menjadi kesatuan busana yang modern. Tehnik embroidery ini ia kombinasikan dengan penggunaan bahan sheer yang menjadi tren belakangan ini, komposisi detail yang pas serta siluet busana yang simple membuat busana ini terasa ringan, dan berjiwa muda.

Bayu Raditya Pratama